Followers

Inilah 5 Alasan Tidak Memilih Foke


Pilih yang memberi janji, bukan yang memberi bukti  tidak mampu
13415661171863856994
Itu plesetan dari  slogan kampanye Foke. Dalam kampanye itu memang saatnya membuat janji-janji atau komitmen. Soal janji itu akan ditepati atau tidak, siapa yang bisa meramal masa depan? Tetapi kita bisa menilai dari rekam jejak setiap calon, apakah dia orang yang mampu menepati janji atau tidak.


Nah, setelah membaca semua program dan rekam jejak para calon gubernur Jakarta, aku sarankan warga Jakarta untuk tidak memilih kembali Foke dengan 5 alasan mendasar :


a. Tidak bisa kerja sama

Satu tahun setelah Foke menjabat di tahun 2007, semua orang Jakarta tahu kalau ternyata Foke tidak cocok dengan mantan atasannya : Sutiyoso. Banyak kemudian programnya Sutiyoso ditunda. Kalau sekarang Sutiyoso mendukung Foke, aku duga Sutiyoso punya kepentingan tahun 2014 untuk dapat dukungan dari Partai Demokrat  — maju sebagai capres. Sutiyoso saat ini adalah ketua partai PKPI yang masuk koalisi Demokrat. Maka perhatikan saja iklan TV, Sutiyoso mengucapkannya : Suka tidak suka….(dia bagian yang tidak suka, tapi terpaksa mendukung)


Tahun 2011 kita dikejutkan permintaan pengunduran diri Wakil Gubernur Prijanto. Ternyata sejak tahun kedua masa jabatan, Prijanto ini cuma dikacangin alias didiamkan , tidak diajak berdiskusi  merumuskan kebijakan. Masalahnya apa? Silakan baca bukunya Prijanto saja.
Nah, sekarang Foke akan maju berpasangan dengan Nachrowi yang tadinya juga berambisi jadi Gubernur Jakarta. Apa ya mereka akan jadi tim yang baik untuk 5 tahun mendatang? Aku kok ragu, ada kemungkinan Nachrowi akan bernasib sama seperti Prijanto. Atau malah Nachrowi berharap di tengah jalan Foke kena kasus korupsi yang sudah dilaporkan ke KPK, sehingga Wakil Gubernur akan naik. Memilih pasangan ini adalah sangat riskan, aromanya pertarungan bukan kerjasama.


b. Tidak menepati janji

Ketika Pemiukada 2007, banyak janji yang sudah diumbar Foke. Tetapi apa yang kita lihat sekarang? Banyak yang tidak terealisir. Satu hal yang diingat teman-teman pesepeda, janji membuat jalur sepeda di Sudirman Thamrin sampai 5 tahun juga tidak ada wujudnya.
Dalam kampanye 2007, Foke janji akan membangun koridor busway sampai 15. Ternyata dalam 5 tahun , dia hanya bisa bangun 2 koridor (IX dan X). Koridor VIII memang diresmikan di masa Foke, tetapi sudah dibangun sejak masa Sutiyoso ( yang dalam 3 tahun bisa bangun 7 -8 koridor).
Mau lihat janji-janji Foke yang lain di tahun 2007? Coba lihat di sini


c. Tidak mampu atur anak buahnya

Sebagai seorang Gubernur , Foke tidak bisa mengendalikan sepenuhnya kinerja anak buahnya. Mau contoh? Masih ingat pelaksanaan SEA Games tahun lalu? Ada perhelatan akbar, internasional semacam itu, kok Pemda DKI malah bangun gorong-gorong di Sudirman yang malah bikin macet dan malu pada tamu-tamu dari Negara ASEAN. Ini kan masalah koordinasi. Dan coba lihat sekarang, lubang gorong-gorong itu masih banyak yang belum beres, tidak rata .
Contoh lain lagi, penghancuran Rumah Cantik di Menteng. Rumah yang ada di pojokan jalan Ci Di Tiro. Rumah yang punya nilai sejarah, masih terawat baik, ketika berpindah tangan – langsung dihancurkan oleh pemilik baru (kabarnya sih Ibas, anaknya SBY ). Pemerintah DKI sama sekali tidak cepat tanggap menghentikan penghancuran Rumah Cantik ini.


d. Tidak adil dalam pembangunan

Selama 5 tahun terakhir ini pembangunan mal , perkantoran dan kawasan pemukiman elit (apartemen) berkembang pesat. Tentu ini segmennya kelas sosial tertentu.  Tetapi adakah pembangunan rumah susun untuk kelas menengah ke bawah? Tidak ada, kalau ada rumah susun di Jakarta Utara, itu adalah inisiatif sebuah lembaga sosial, bukan pemerintah DKI. Adakah penambahan pasar tradisional di Jakarta? Tidak ada.
Kalau Foke menjabat kembali jadi Gubernur, bisa dibayangkan kota Jakarta ini hanya untuk mereka yang kaya raya. Bahkan tidak untuk kelas menengah, apalagi kelas bawah. Contoh pemukiman. Kelas menengah akan semakin minggir ke Bekasi, Depok, Tangerang, sementara kelas bawah lebih jauh lagi sampai Bogor. Sementara di Jakarta yang berkembang adalah pemukiman kelas atas, dengan model kawasan atau super blok, seperti SCBD, Kota Kasablanka, Ciputra World, dll. Kampung-kampung akan digusur, diganti dengan pemukiman atau pusat perbelanjaan.


e. Tidak jujur dan hutang politiknya banyak

Perhatikan dalam hari-hari ini, di tempat-tempat strategis, selain spanduk-spanduk kampanye, kita disuguhi spanduk maupun papan reklame yang isinya tentang keberhasilan pembangunan Jakarta dalam 5 tahun terakhir ini. Biasanya menggunakan kata Jakarta Harapanku. Ini semua kampanye ini didanai dengan APBD – uang negara.
Memang secara legal formal, tidak menyalahi aturan. Pemerintah Daerah mana pun boleh saja bikin program sosialisasi kepada masyarakat. Tetapi apakah tahun-tahun sebelumnya kita pernah lihat kampanye semasif ini? Mengapa waktunya berbarengan dengan kampanye Pemilukada? Ya tentu ini mau bicara kesuksesan Foke, walau sebenarnya tidak benar seperti yang dikampanyekan. Ketidakjujuran lainnya bisa dibaca di tulisan ini (main-main dengan data statistik).


Kita lihat, dari 6 pasangan calon ini, siapa yang paling banyak pasang spanduk dan beriklan di TV? Ya Foke. Duit dari mana? Pasangan Foke – Nara tidak serius melakukan penggalangan dana dari masyarakat,  sementara pasti biaya iklan itu tinggi. Dan seperti kebiasaan Pemilukada lainnya, biaya kampanye ini biasanya didapat dari pengusaha-pengusaha yang berpamrih. Nanti ada hutang politik yang mesti dibayar saat 5 tahun ke depan. Misalnya kemudahan mendapatkan ijin, proyek pemerintah, dll. Nah makin besar hutangnya (=biaya kampanye besar), makin terjeratlah si calon pada kemauan para pengusaha berpamrih tadi. Dan Foke punya peluang besar masuk dalam jeratan ini.


Tahun 2007 ketika Pemilukada, Foke pun sudah masuk jeratan hutang politik. Walaupun pada akhirnya Foke pun bertikai dengan bohir-nya Djan Farid. Baca di sini(sekali lagi membuktikan, Foke tidak bisa kerjasama). Sehingga Djan Farid pun akan maju menyaingi Foke pada Pemilukada ini, walau akhirnya Foke “diselamatkan” SBY dengan mengangkat Djan Farid jadi Menteri Perumahan Rakyat.
Keputusan kembali pada masing-masing orang. Tetapi kali ini lebih baik membeli kucing dalam karung (5 calon yang lain) - paling tidak ada harapan untuk Jakarta yang lebih baik, dari pada kucing di luar karung yang sudah ketahuan kualitasnya.

Inilah 5 Alasan Tidak Memilih Foke
Anda sedang membaca artikel Inilah 5 Alasan Tidak Memilih Foke dengan url : http://www.sigit.in/2012/07/inilah-5-alasan-tidak-memilih-foke.html
Dapatkan Artikel Terbaru Gratis!! Masukan Email Kamu Disini :
Terima Kasih
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

budayakan berkomentar sopan dan edukatif...

Baca Juga

 
Tahukah Kamu »